Cara Membetulkan Flash Disk Rusak Januari 4, 2009
Posted by deef in komputer.9 comments
http://achiles-punyablog.blogspot.com/2008/12/cara-membetulkan-flash-disk-rusak.html
Cara membetulkan Flash Disk rusak sebenarnya sangat mudah. Tips-triknya simple. Flash Disk adalah sahabat netter dan sedapat mungkin kita jaga agar Flash Disk itu tidak rusak atau terkena Virus. Jika Flash Disk kita terpaksa rusak dengan kasus terdeteksi atau terbaca keberadaannya namun jika dilihat propertiesnya hanya menunjukkan 0kb dan data-data kita tidak bisa dibuka, coba betulkan Flash Disk dengan menggunakan tips trik Tutorial berikut ini:
1. Download HP Drive Boot Utility sebesar 45 Mb. Freeware. Software ini mendukung untuk Flash Disk yang bukan keluaran HP.
2. Install software tersebut Kedalam PC ataupun Laptop anda
3. Koneksikan flashdisk yang bermasalah ke dalam komputer via USB.
4. Jalankan software dan pilihlah drive tempat flash disk anda.
5. Pilih Create New or Replace Existing Configuration
Sekarang coba cek Flash Disk anda apakah sudah sehat kembali ? Tutorial Tips trik cara membetulkan Flash Disk rusak ini bisa anda share-kan kepada teman2 anda yang mengalami hal yang serupa.
Aku ingin menikah Bang!!! Desember 27, 2008
Posted by deef in inspirasi.add a comment
(http://izzasyifa.wordpress.com/2007/09/19/aku-ingin-menikah-bang/)
Aku ingin menikah bang!!! Itu awal dari suratnya…membuat jantungku berdekap kencang, lalu ku baca surat itu perlahan.
Aku ingin menikah bang!!!
Bukan karena aku ingin melakukan hal yang selama ini dilarang oleh agama, tapi aku ingin menikmati pernikahan itu sendiri.
Aku tau tak mudah untuk menjalani sebuah pernikahan, suatu ikatan erat yang tak bisa dimainkan layaknya orang yang berpacaran. Tapi aku inginkan itu, aku ingin menikmati susahnya menjadi seorang istri, mempunyai anak dan mengurus mereka..aku suka akan hal itu dan aku akan menganggapnya sebagai suatu ibadah karena ada tantangan yang harus aku lalui, disamping menjalankan roda rumah tangga juga berkarir untuk diriku sendiri.
Bukankah kau tau, dari dulu aku ingin sekali menikah muda. Kau mau tau alasannya? Karena aku suka melakukan hal itu, aku merasa bangga menjadi seorang istri sekaligus menyandang status ibu bagi anak-anakku, melihat perkembangan mereka dari kecil hingga dewasa menaklukkan rasa penatku setelah sehari bekerja. Mengurus suami yang sangat aku hormati juga aku cintai, memberikannya limpahan cinta dan ingin selalu tampil cantik didepannya. Itulah yang ingin aku lakukakan.
Aku tau ini gak gampang untukmu, aku tau banyak hal yang engkau fikirkan. Tapi terkadang hal itu hanya sebuah keinginan, dimana manusia tak bisa lepas dari rasa puas. Saat keinginan engkau telah tercapai, engkau pasti menginginkan hal yang lain lagi.
Kau tau sayang??menikah itu ibadah, dengan menikah kau telah menyempurnakan ibadahmu juga agamamu. Menikah bukanlah hal yang paling manakutkan, setidaknya menurut versiku, karena semua tak akan berbeda, kecuali hidup bersama dengan kewajiban masing-masing.
Kau masih bisa beraktivitas seperti biasa, yang berbeda hanyalah kurangnya waktu luangmu
diluar rumah karena ada seorang istri yang menantimu dirumah, menyediakanmu segala hal yang engkau perlukan.
Aku bisa membayangkan betapa bahagianya dengan keluarga seperti itu. Tak ada paksaan juga tekanan, karena semua didasari dengan rasa sayang juga kebersamaan.
Keinginan ini sudah kupendam sejak lama, hanya saja aku juga gak bisa sembarangan memilih calon suami yang akan mendampingiku seumur hidupku.
Satu hal yang perlu kau tau, selama ini aku juga terjebak dalam dua keadaan yang sangat mengganggu fikiranku, menikah atau berkarir.
Karena jika aku memilih untuk menikah, maka karirku tak seperti yang aku inginkan, sementara aku juga ingin sukses dalam berkarir, kebanyakan perusahaan menginginkan karyawan yang belum menikah.
Tapi hasrat ku ini sangat kuat, banyak pro dan kontra akan keinginanku ini, ada yang memberiku nasehat untuk menyegerakan pernikahan, ada juga yang menyuruh kami untuk berkarir karena usia kami yang terbilang muda, hanya saja menurutku usiaku bukan muda lagi, walaupun masih banyak yang lebih tua usianya dan belum menikah, tapi aku mengkhawatirkan usia ini. Aku juga mengkhawatirkan kesalahan yang akan kulakukan dalam menjalin sebuah hubungan yang biasa disebut pacaran.
Menurutku 1 tahun cukup untuk mengenal karakter masing-masing, dan aku rasa aku telah cukup mengenalmu. Apa fikiranku ini salah?
Mungkin engkau tlah banyak menyusun rencana untuk masa depan kita, aku dukung semua itu, tapi aku tak mau terlalu berencana bang, karena terlalu sakit klo semua itu tak seperti yang kita harapkan, bukankah kita lebih mantap menyusun rencana saat kita sudah menikah? Menyatukan untuk satu tujuan, apa apa saja yang ingin kita raih dan kita miliki.
mungkin banyak hal yang terfikir dikepalamu, seperti memiliki sebuah rumah, kendaraan juga yang lainnya, tapi tidakkah kau tau itu pasti bisa kita dapatkan dan aku yakin kita bisa mewujudkannya bersama-sama.
Mungkin engkau adalah penganut faham yang mengatakan belum siap menikah apabila belum mapan dari segi materil, engkau ingin segalanya perfect saat engkau ingin melanjutkan sebuah hubungan ke jenjang pernikahan. Itu wajar, aku tau engkau melakukan semua itu karena kau ingin membahagiakan aku. Semua itu memang sangat kita butuhkan, apalagi di era globalisasi seperti ini, dimana persaingan semakin ketat, juga mahalnya biaya hidup baik primer maupun sekunder.
Tapi sampai kapan kau ingim mewujudkan semua itu?semakin lama waktu berjalan, semakin banyak yang akan difikirkan, dan semakin mahal pula biaya hidup yang harus dikeluarkan..tidakkah kau mengerti akan hal itu.
Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang, tapi jika kita mempunyai niat yang baik untuk suatu urusan, aku yakin Allah pasti memberikan kemudahan, apalagi kita mempunyai niat untuk menyempurnakan.
Tidakkah kau sadari, selama ini engkau telah memiliki niat yang tulus dalam hatimu, walau engkau sempat merasa putus asa, namun perlahan tapi pasti, engkau mendapatkannya satu demi satu, tawaran itu mengalir walau belum seperti yang engkau inginkan, hanya saja itu adalah proses akan niat baikmu.
Aku tak bisa menjelaskan dengan detail akanhal itu, aku takut engkau akan merasa seolah aku mengguruimu atau mungkin memaksamu, bukan-bukan itu yang aku mau, aku hanya ingin meluruskan maksudmu, aku akan tetap menunggumu. Sampai engkau merasa siap. Tapi aku tak mau engkau terus berfikir akan semua materil, karena aku yakin seiring berjalannya waktu kita pasti bisa mewujudkannya bersama-sama.
Banyak orang sukses pada awal ia menikah biasa-biasa saja, tapi karena mereka mau berusaha, bahu membahu dan didampingi oleh istri tercinta, akhirnya mereka bisa mewujudkan cita-citanya.
Untuk itu jangan memaksakan diri untuk segera mewujudkannya, aku tak mau dirimu sakit, hanya kerena bekerja dan tak mengenal waktu beristirahat.
Engkau mengatakan agar aku tak perlu memikirkan dan mengkhawatikanmu, tapi aku tak bisa, karena aku tau sikapmu yang selalu merasa bisa dan menganggap semua mudah, itu yang aku khawatirkan. Istirahat yang kurang dan tidak beraturan bisa membuatmu sakit, bagaimana bisa aku tidak memikirkanmu? Kau tau..engkau adalah semangatku, separuh dari hidupku, ada yang kurang jika sehari saja aku tidak memikirkan dan mendengar kabarmu, bagaimana bisa aku melupakanmu jika engkau sudah terpatri dalam hatiku.
Mungkin kau tak pernah tau akan hal itu, seberapa besar aku mencintaimu, mengharapkanmu tuk menjadi pendampingku. Menjadi imam untukku juga anak-anakku kelak.
Kadang aku juga merasa heran, mengapa aku begitu menyanjungmu, tak perduli akan yang lain. Engkau yang terbaik, segalanya untukku.
Sayang aku terus berdoa untuk kita, semoga Allah memberikan kemudahan dan melimpahkan rahmatnya pada kita. Amien….
medan, 14 sep 2007
Bukan karena aku ingin melakukan hal yang selama ini dilarang oleh agama, tapi aku ingin menikmati pernikahan itu sendiri.
diluar rumah karena ada seorang istri yang menantimu dirumah, menyediakanmu segala hal yang engkau perlukan.
Untuk itu jangan memaksakan diri untuk segera mewujudkannya, aku tak mau dirimu sakit, hanya kerena bekerja dan tak mengenal waktu beristirahat.
Bung Karno Oktober 13, 2008
Posted by deef in sisi lain.add a comment
Ada dua buku biografi beliau yang pernah saya baca satu yang ditulis oleh Rahmawati diterbitkan sekitar tahun 80’an (ini pernah saya pinjam dari paman saya) dan satu lagi saya tidak ingat ditulis oleh siapa tapi seingat saya buku yang kedua ini dibuat untuk mengenang 100 tahun Bung Karno yang sampulnya berwarna merah putih – jadi sekitar tahun 2001 (yang ini saya pinjam dari Ian teman sebangku saya di SMU dulu), so deef… ? Hhee… gak… ada satu hal yang sangat menyentuh bagi saya dan ingin saya ceritakan kembali kepada teman-teman.
Buku pertama yang ditulis oleh putri beliau lebih banyak bercerita tentang bagaimana kelunya hati seorang anak yang merasa sebagai mantan raja ayahnya mendapat perlakuan yang kurang pantas dari pemerintahan yang berkuasa setelah beliau, maaf kalau apa yang saya tulis ini berlebihan saya akan menjaga agar unek-unek itu tidak sok-sok bicara politik (sebab… saya ngerti politik juga enggak… “), Rahmawati menceritakan bagaimana Bapak dulu sering tidak berada di rumah – kisruh rumah tangga karena Bapak menikah lagi, gaun warna pelangi hadiah dari Bapak untuk dia atau begitu perihnya ketika Bapak dirawat karena penyakit batu ginjal dan tidak ada uang untuk menebus obat… hmmm…, sungguh miris memang, putrinya juga menceritakan disaat-saat terakhirnya Bapak lebih banyak bersama dia atau bagaimana suatu kali Bapak pernah bercanda di pembaringannya sambil mengatakan “saya ini pabrik batu”
dan banyak lagi.
Buku kedua menceritakan kisah Bung Karno dari kecil, seorang anak yang disekolahkan oleh pamannya oh… ya kalau tidak salah nama kecil beliau itu “Kusno”, dibuku kedua ini saya seperti merasakan Bung Karno sendirilah yang bercerita, begitu banyak yang telah beliau lakukan, anak muda yang mungkin usianya seperti kita sekarang tapi bebannya (apa yang dilakukannya) sungguh luar biasa… cita-citanya yang menginginkan Indonesia menjadi sebuah negara dan dari keinginannya ini lah kemudian berbagai pengalaman tunggal-langgangnya dimulai, dijauhkan dari orang-orang terkasih (Bengkulu – Ende), menjalani kehidupan pahit untuk sorang insinyur di masa itu serta bagaimana beliau menyelesaikan buku tebal di atas kloset pengasingan. Tapi seolah Bung Karno menceritakan bahwa kesanggupan itu muncul karena ia merasakan bahwa segenap bangsa Indonesia mendukung, senada dengan kata bijak yang pernah saya baca “kalau keinginan kita begitu besar apa lah artinya kesulitan-kesulitan itu”, atau lagunya Utha Likumahuwa “apalah artinya sebuah derita… bila kau yakin semua pasti akan berlalu…” (hehehe bener gak ?, ahh sok tau gw….). “so… deef… sisi lain apa sih yang ingin kamu ceritakan kalo yang gituan kayaknya kami bisa baca sendiri deh… buruan ato kami tinggal tidur nehh…”, “bentar… bentar… tunggu… jangan bosen dulu !”.
Dibuku kedua beliau ada bercerita seperti ini (ketika Indonesia sudah merdeka dan beliau telah tinggal di istana), “rakyat Indonesia mungkin tidak pernah tahu, kalau pada malam hari saya sering turun dari ranjang dan tidur di lantai”, beliau tidak bisa pulas karena punggungnya sudah terlalu biasa dengan keras dan dinginnya lantai di pengasingan.
Menurut teman-teman itu merupakan sisi lain apa bukan ? atau cuma masalah kebiasaan saja atau kedua-duanya. Ya… apapun itu saya percaya kita sama-sama menghormati dan berterima kasih kepada beliau, kalau Amerika mempunyai George Washington, Afrika Selatan mempunyai Nelson Mandela, Tibet mempunyai Dalai Lama, Palestina mempunyai Yasir Arafat dan Iran mempunyai Reza Pahlevi. Kita juga punya dong…, ya… Indonesia mempunyai deef, maksud saya “Soekarno”.
Zzzzzzz….
Menikah.. sekedar renungan Oktober 11, 2008
Posted by deef in inspirasi.add a comment
(dikopi bullet-bulet dari blognya cie nenks… gw bantu sebarin ya ta… mungkin berguna buat yang lagi mikir untuk menikah…)
Benarkah menikah didasari oleh kecocokan?
Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng..
Kalau sama-sama suka sop buntut
berarti masa depan cerah…(That simple?….. …)
Berbeda dengan sepasang sandal yang hanya punya aspek kiri dan kanan, menikah adalah persatuan dua manusia, pria dan wanita. Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya.
Kecocokan, minat dan latar belakang keluarga bukan jaminan segalanya akan lancar.. Lalu apa?
MENIKAH adalah proses pendewasaan. Dan untuk memasukinya diperlukan pelaku yang kuat dan berani.
Berani menghadapi masalah yang akan terjadi dan punya kekuatan untuk menemukan jalan keluarnya.
Kedengarannya sih indah, tapi kenyataannya?
Harus ada ‘Komunikasi Dua Arah’, ‘Ada kerelaan mendengar kritik’, ‘Ada keikhlasan meminta maaf’, ‘Ada ketulusan melupakan kesalahan,dan Keberanian untuk mengemukakan pendapat’.
Sekali lagi MENIKAH bukanlah upacara yang diramaikan gending cinta, bukan rancangan gaun pengantin ala cinderella, apalagi rangkaian mobil undangan yang memacetkan jalan.
MENIKAH adalah berani memutuskan untuk berlabuh, ketika ribuan kapal pesiar yang gemerlap memanggil-manggil
MENIKAH adalah proses penggabungan dua orang berkepala batu dalam satu ruangan dimana kemesraan, ciuman, dan pelukan yang berkepanjangan hanyalah bunga.
Masalahnya bukanlah menikah dengan anak siapa, yang hartanya berapa, bukanlah rangkaian bunga mawar yang jumlahnya ratusan, bukanlah perencanaan berbulan-bulan yang akhirnya membuat keluarga saling tersinggung, apalagi kegemaran minum kopi yang sama…
MENIKAH adalah proses pengenalan diri sendiri maupun pasangan anda.
Tanpa mengenali diri sendiri, bagaimana anda bisa memahami oranglain… ??
Tanpa bisa memperhatikan diri sendiri, bagaimana anda bisa memperhatikan pasangan hidup…??
MENIKAH sangat membutuhkan keberanian tingkat tinggi, toleransi sedalam samudra, serta jiwa besar untuk ‘Menerima’ dan ‘Memaafkan’. (adapted from milis)
Ksatria baja hitam Oktober 10, 2008
Posted by deef in sisi lain.add a comment
Saya tahu film ini sekitar tahun ’93 (saya pernah baca film ini pertama kali dibuat pada tahun ’86) pada saat masih tinggal di daerah kecil di wilayah pegunungan, dulu setiap sore sekitar jam 4 habis pulang mandi di pauk (empang) tapi selalu bilas badan lagi di rumah setelah mendapat beberapa pukulan sadis di pantat oleh ibu (hehehe… mom… tengkyu…) ini jadi menu wajib, waktu paling pribadi buat saya kala itu. Dulu saya sangat ingin jadi ksatria baja hitam, punya kekuatan luar biasa, mampu menyelamatkan bumi… sungguh ini beneran saya dulu sangat ingin dan tidak pernah berpikir bahwa semua itu cerita khayal belaka. Saya suka gaya Kotaro menggerakkan tangannya pada saat mau berubah wujud dari manusia biasa menjadi Kamen rider – Black, setelah tinggal di Palembang ternyata makin banyak saja teman yang juga suka dengan film ini, tapi saya tidak pernah tahu apa mereka juga ingin menjadi seperti Kotaro, seorang pemuda yang ingin buminya – damai, tapi saya tidak pernah menanyakan hal itu, sampai saat ini kenangan Ksatria baja hitam ini masih saja melekat di benak saya, dan di sanalah kenangan pahlawan masa kecil saya berhenti. Ketika ada film-film superhero baru, atau kamen rider versi modern yang lain, tidak bisa membuat saya tertarik, mereka bukan Kotaro.
Sekarang bila ingat saat-saat itu saya suka merasa geli sendiri, ada saja sisi kanak-kanak pada diri kita, yang tidak ingin kita buang, yang mampu membawa kita pada sebuah suasana yang sangat berbeda. Seperti Peter Pan yang tidak ingin menjadi dewasa dan konon diadopsi habis-habisan oleh Michael Jackson, ya… biarlah sisi kanak-kanakmu itu selalu berada bersamamu – anggap saja anak-anak yang nyasar ke tubuh orang dewasa, anak-anak selalu menjaga imajinasinya. Candice F Ransom berkata “saya berhenti tumbuh pada usia 15 tahun kalau pun sekarang saya menjadi dewasa itu hanya karena suatu keharusan”.
I do love, your childish inside.
Sandal lebaran Oktober 8, 2008
Posted by deef in sisi lain.add a comment
Saya punya adik laki-laki bungsu berumur 16 tahun, kami mempunyai hubungan bathin yang luar biasa… sejak kecil dia selalu bersama saya, dua adik saya yang lain usianya tidak terpaut jauh dengan saya, dulu ketika dia masih kecil sayalah yang banyak mengasuhnya, dan kini dia sudah berumur 16 tahun tapi saya masih saja memperlakukannya seperti bayi 1,6 tahun dan membuatnya risih hahaha…
Karena itu hampir semua kegiatannya saya awasi dan teman-temannya pun saya kenali satu-satu…
Suatu hari pada 1429 hijriah adikku dikunjungi tamu-tamunya… sebutlah Opi, Iis, Riski, Fadli dll, ada satu lagi temannya yang tidak terlihat sebutlah Umar (bukan sebenarnya), saya tanya Umar mana ? ada Kak di rumahnya kata salah satu temannya… Kenapa gak ikut ? udah dipaksa Kak… tetap gak mau, gak punya sandal katanya, begitu polosnya mereka menjawab… namun kecut dihatiku dan hening tiba-tiba yang aku rasa di udara. Aku tidak dapat berkata-kata, dan jari yang sedang mengetik ini pun sempat terhenti mengingat momen itu.
Iqro… terkadang ada sisi lain yang luput untuk kita baca… di hari raya yang sejatinya semua anak-anak berbahagia ada juga yang mungkin merasa sebaliknya dan saya sempat merasa tidak berguna saat itu.
Aku mencintai kalian.
Hal kecil yang menjengkelkan Oktober 8, 2008
Posted by deef in inspirasi.add a comment
Saya kopi tulisan ini dari http://forum.a6point.com, dengan izin dari mas puji, tq mas…
buat fren2 ku…
Setelah peristiwa 11 September, sebuah perusahaan mengundang karyawan dari perusahaan lain yang selamat,
sedangkan sebagian besar meninggal saat terjadinya serangan atas WTC – untuk menceritakan pengalamannya.
Pada pertemuan pagi itu, pimpinan kemanan menceritakan kisah bagaimana mereka bisa selamat …
dan semua kisah itu adalah hanyalah mengenai : HAL-HAL YANG KECIL.
- Kepala kemanan perusahaan selamat pada hari itu karena mengantar anaknya hari pertama masuk TK.
- Karyawan yang lain masih hidup karena hari itu adalah gilirannya membawa kue untuk murid di kelas anaknya.
- Seorang wanita terlambat datang karena alarm jamnya tidak berbunyi tepat
waktu. – Seorang karyawan terlambat karena terjebak di NJ Turnpike saat terjadi kecelakaan lalu lintas
- Seorang karyawan ketinggalan bus.
- Seorang karyawan menumpahkan makanan di bajunya sehingga perlu waktu untuk berganti pakaian.
- Seorang karyawan mobilnya tidak bisa dihidupkan.
- Seorang karyawan masuk ke dalam rumah kembali untuk menerima telpon yang berdering.
- Seorang karyawan mempunyai anak yang bermalas-malasan sehingga tidak bisa siap tepat waktu untuk berangkat bersama-sama.
- Seorang karyawan tidak memperoleh taxi.
- Sedangkan satu hal yang menahan saya sendiri adalah : sebuah sepatu baru.
- Saya memakai sepatu baru pagi itu, dan berangkat kerja dengan bersemangat, tetapi sebelum sampai di kantor (WTC), sepatu itu menyebabkan luka di tumit. Saya berhenti di sebuah toko obat untuk membeli plester.
Inilah yang menyebabkan saya bisa tetap – hidup sampai hari ini.
Sekarang, jika saya terjebak dalam kemacetan lalu lintas, ketinggalan lift, harus masuk ke rumah lagi untuk menjawab telpon …
dan semua HAL KECIL yang mengganggu – sekarang ini saya sangat memahami, bahwa Tuhan benar-benar menginginkan saya berada di sini untuk saat ini.
Suatu pagi jika saudara merasa semuanya terlihat sangat kacau, anak-anak
lambat berpakaian, saudara tidak bisa menemukan kunci mobil, selalu sampai di perempatan saat lampu merah menyala; jangan terburu-buru marah atau frustrasi, karena TUHAN sedang bekerja untuk menjaga kehidupan anda!
- Kiranya Tuhan selalu memberkati saudara dengan semua hal-hal kecil yang tampaknya mengganggu – dan semoga saudara mengingat akan maksud dari semua peristiwa kecil itu terjadi -
let’s deef your world !
Aku menangis untuk adikku 6 kali Juni 27, 2008
Posted by deef in inspirasi.add a comment
Artikel ini saya copy dari website www.iloveblue.com detail linknya : http://www.iloveblue.com/bali_gaul_funky/artikel_bali/detail/2545.htm, di-post oleh Dendi Septiadi ( 2007-12-24), kepada Admin situs di atas saya mohon izin untuk menampilkan artikel ini pada blog saya sekedar untuk berbagi dengan teman-teman yang lain.
Berikut artikelnya :
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.
Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.:
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya.
Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan :
“Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”.
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata :
“Ayah, aku yang melakukannya! “.
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi,:
“Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? … Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”.
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata :
“Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”
Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11. Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut :
“Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…”
Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas. Sambil berkata :
“Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”.
Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata :
“Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku.”
Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya sambil berkata :
“Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya?. Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!”.
Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata :
“Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.”.
Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:
“Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”.
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas) . Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan :
” Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana !”.
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, :
“Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?”
Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu? “
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku :
“Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu. ..”.
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan :
“Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku. “Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum :
“Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”.
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.aku bertanya :
“Apakah itu sakit?”.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…” Ditengah kalimat itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan :
“Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.
Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu :
“Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”
Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. :
“Pikirkan kakak ipar…ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”
Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah:
“Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
“Mengapa membicarakan masa lalu?” Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.
Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya :
“Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?”.
Tanpa bahkan berpikir ia menjawab :
“Kakakku.”
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat :
“Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.
Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku akhirnya keluar juga :
“Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.
Ini ada cerita sederhana, tapi dapat memiliki pengaruh yang luas Juni 27, 2008
Posted by deef in inspirasi.add a comment
Artikel ini saya peroleh dari teman, sayang tidak jelas sumber aslinya selamat membaca semoga menginspirasi.
Seorang pemuda berangkat kerja dipagi hari.
Memanggil taxi, dan naik,…’selamat pagi Pak,’…katanya menyapa sang sopir taxi terlebih dulu,…
“Pagi yang cerah bukan?’ sambungnya sambil tersenyum,.. .lalu bersenandung kecil.
Sang sopir tersenyum melihat keceriaan penumpangnya, …dengan senang hati, Ia melajukan taxinya.
Sesampainya ditempat tujuan,..
Pemuda itu membayar dengan selembar 20 ribuan, untuk argo yang hampir 15 ribu,
‘Kembaliannya buat bapak saja,…selamat bekerja Pak,..’ kata pemuda dengan senyum.
‘Terima kasih,…’ jawab Pak sopir taxi dengan penuh syukur…wah, ..aku bisa sarapan dulu nih,… pikirnya,…
Dan menuju kesebuah warung..’biasa Pak?’ tanya si mbok warung.
‘Ya, biasa,.. nasi sayur,… tapi,.. pagi ini, tambahkan sepotong ayam’..jawab pak sopir dengan tersenyum,Dan, ketika membayar nasi , di tambahkannya seribu rupiah buat jajan anaknya si mbok,…begitu katanya.
Dengan tambahan uang jajan seribu, pagi itu anak si mbok berangkat kesekolah dengan senyum lebih lebar,….
Ia bisa membeli 2 buah roti pagi ini,…dan diberikannya pada temannya yang tidak punya bekal,…
Begitulah,.. .cerita bisa berlanjut,..
Bergulir,… .seperti bola salju,…
Keluarga Pak sopir bisa lebih bahagia hari itu,..begitu juga keluarga si mbok,…
Teman2 si anak,…keluarga mereka,… semua tertular kebahagiaan, ……Kebahagiaan, seperti juga kesusahan, bisa menular kepada siapa saja disekitar Kita.
Kebahagiaan adalah sebuah pilihan…
Sudahkah KITA menularkan kebahagiaan Hari ini?
Have A Nice Day
